Sejarah Bank Dunia – Bank Dunia, atau dikenal secara resmi sebagai Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD), didirikan pada tahun 1944, selama Konferensi Moneter dan Keuangan Internasional di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Bank Dunia bertujuan untuk membantu membangun kembali ekonomi pasca Perang Dunia II dan membantu mempromosikan pembangunan ekonomi di seluruh dunia. Sejak itu, Bank Dunia telah menjadi organisasi multilateral terkemuka yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran global.

Bank Dunia terdiri dari lima lembaga utama, yaitu Bank Pembangunan Internasional (IDB), Bank Investasi Multilateral (MIGA), Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Pembangunan Afrika (AfDB), dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Bank Dunia dan lima lembaga tersebut membentuk kelompok yang disebut sebagai kelompok Bank Dunia. Organisasi ini bermarkas di Washington, D.C., Amerika Serikat dan saat ini memiliki 189 negara anggota.

Sejarah Bank Dunia dimulai dengan pembentukan IMF pada tahun 1944. IMF didirikan untuk memastikan stabilitas keuangan internasional dan mengawasi sistem moneter internasional. Namun, pada saat yang sama, para pemimpin dunia juga menyadari pentingnya membangun kembali ekonomi pasca perang. Untuk memfasilitasi rekonstruksi pasca perang, perlu dibentuk suatu organisasi yang mampu memberikan pinjaman jangka panjang kepada negara-negara yang membutuhkan. Dalam rangka ini, Bank Dunia didirikan sebagai bank pembangunan internasional yang bertujuan untuk membantu membangun kembali ekonomi pasca perang.

Bank Dunia didirikan pada tanggal 27 Desember 1945 setelah 29 negara menandatangani perjanjian pendirian Bank Dunia di Konferensi Bretton Woods. Pendirian Bank Dunia merupakan sebuah terobosan besar dalam sejarah keuangan internasional karena ia memberikan pinjaman jangka panjang kepada negara-negara berkembang dengan bunga rendah untuk memfasilitasi pembangunan ekonomi.

Pada awalnya, Bank Dunia hanya memberikan pinjaman jangka panjang kepada negara-negara pasca perang. Namun, pada tahun 1950-an dan 1960-an, Bank Dunia mulai memberikan pinjaman kepada negara-negara berkembang yang mengalami kesulitan ekonomi. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan seperti pembangunan jalan, jembatan, bandara, dan infrastruktur lainnya.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, Bank Dunia mengalami perubahan besar dalam cara kerjanya. Selama periode ini, Bank Dunia mulai mempromosikan pertumbuhan ekonomi dengan membuka pasar dan memperkenalkan kebijakan fiskal yang ketat. Tujuan utama Bank Dunia pada saat itu adalah untuk membantu negara-negara berkembang mencapai pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 1945, konferensi Bretton Woods diadakan dengan tujuan untuk memperbaiki sistem keuangan global yang terganggu akibat Perang Dunia II. Konferensi ini melahirkan dua organisasi baru, yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Bank Dunia secara resmi didirikan pada tahun 1944 dengan nama Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Internasional (International Bank for Reconstruction and Development – IBRD). Bank ini bertujuan untuk memulihkan negara-negara yang terdampak oleh Perang Dunia II melalui pinjaman dan bantuan pembangunan.

Pada awalnya, Bank Dunia hanya melayani 38 negara dengan anggaran sekitar 9 miliar dolar AS. Namun, seiring berjalannya waktu, Bank Dunia menjadi semakin terlibat dalam proyek-proyek pembangunan di seluruh dunia, dari membangun jalan raya hingga membangun jaringan listrik dan membangun pabrik.

Pada tahun 1960, Bank Dunia memperkenalkan program pinjaman bagi negara-negara berkembang. Program ini bertujuan untuk membantu negara-negara ini membangun infrastruktur, seperti jalan raya, bandara, dan pelabuhan, serta mendukung pembangunan industri dan pertanian.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, Bank Dunia telah menjadi subjek kontroversi. Kritikus mengatakan bahwa Bank Dunia seringkali meminjamkan uang kepada negara-negara yang memiliki catatan buruk dalam hak asasi manusia atau yang memiliki tingkat korupsi yang tinggi.

Di sisi lain, Bank Dunia mempertahankan bahwa pinjaman mereka berfokus pada membantu negara-negara miskin dan merancang proyek-proyek yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Saat ini, Bank Dunia memiliki dua organisasi utama: IBRD dan Asosiasi Pengembangan Internasional (International Development Association – IDA). IBRD memberikan pinjaman kepada negara-negara yang memiliki penghasilan menengah hingga tinggi, sementara IDA memberikan pinjaman kepada negara-negara yang memiliki penghasilan rendah.

Selain itu, Bank Dunia juga memiliki beberapa badan pendukung, seperti Lembaga Jaminan Investasi Multilateral (Multilateral Investment Guarantee Agency – MIGA) yang membantu melindungi investasi asing, serta Dana Persiapan untuk Bencana Alam dan Keadaan Darurat (Global Facility for Disaster Reduction and Recovery – GFDRR) yang membantu negara-negara yang terkena bencana alam.

Bank Dunia juga telah memperluas fokusnya untuk memasukkan isu-isu seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan ketimpangan gender dalam program-programnya.

Namun, Bank Dunia tetap menghadapi kritik dari banyak pihak. Beberapa kritikus mengatakan bahwa Bank Dunia terlalu fokus pada memperluas pasar global daripada membantu negara-negara berkembang. Kritikus lainnya mengklaim bahwa Bank Dunia tidak memiliki transparansi yang cukup dalam pengambilan keputusan dan tidak melibatkan Bank manapun dan Negara manapun.

Hi, I’m blake